VdBackground 01.jpg

Apakah Prestasi Akademis adalah Segalanya?

Print
Created on Friday, 16 August 2013 Last Updated on Friday, 16 August 2013 Written by V-dee


Banyak orang tua menganggap prestasi akademis sebagai sesuatu yang paling penting dari pendidikan anaknya. Bahkan hal itu sering dijadikan satu-satunya tolak ukur keberhasilan seseorang. Untuk meraih itu, seseorang dituntut untuk terus belajar, belajar dan belajar, dari TK sampai Perguruan Tinggi. Target yang ingin diraih hanya satu, lulus dengan prestasi akademis yang terbaik.

Menarik, sebuah artikel edukasi menulis bahwa di Jepang, keberhasilan seseorang tidak diukur dari prestasi akademisnya. Bahkan agar dapat melamar pekerjaan di Jepang, hal yang paling diperhatikan BUKAN prestasi akademis. Lalu, bagaimana agar lolos melamar pekerjaan di Jepang?

Perguruan Tinggi di Jepang mempersiapkan calon-calon mahasiswa yang handal di era globalisasi bukan hanya mengandalkan kemampuan akademis. Beberapa faktor penting lain yang jadi perhatian adalah soft skills, yaitu seni berkomunikasi, sikap saling pengertian dengan orang dari berbagai latar belakang budaya (mutual understanding), kemampuan kerjasama (teamwork), kepribadian kuat, kemandirian, kemampuan berorganisasi serta kecakapan memimpin (leadership skill). Jadi, Dahlan Nariman, Vice Dean of Admission-Associate Professor Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), di Kampus Ritsumeikan APU, Beppu, Jepang, Rabu (26/6/2013) mengatakan, “Sudah bukan waktunya Perguruan Tinggi hanya memfasilitasi mahasiswa dengan hanya kegiatan belajar-mengajar di kelas melalui ceramah atau seminar yang terlalu formal."

Dahlan mengatakan bahwa banyak kegiatan di luar kelas yang bisa mengondisikan para mahasiswa memperoleh soft skills mereka dengan baik. Salah satunya adalah memfasilitasi mahasiswa untuk berorganisasi sehingga para mahasiswa mampu bersaing dan berkiprah di kancah global. Karena itu, Dahlan mengatakan jika pihak Ritsumeikan APU memfasilitasi kegiatan-kegiatan mahasiswanya, baik dalam bentuk kegiatan organisasi kampus maupun proyek studi lapangan. Menurut dia, dengan cara itulah APU berhasil mencetak mahasiswa siap kerja dan membuka lapangan kerja di dunia internasional.

Tahun 2012, dari 46 mahasiswa Indonesia yang lulus dari Ritsumeikan APU, 40 orang langsung bekerja di Jepang, dua orang melanjutkan pendidikan ke tingkat S-2, tiga orang bekerja di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia, sedangkan satu lulusan lainnya malanjutkan bisnis orang tuanya di Indonesia.
"Karena mereka sudah terbiasa bekerja dengan orang-orang dari berbagai bangsa dan latar belakang budaya berbeda. Dengan berorganisasi itulah mereka terbiasa memimpin dan dipimpin, bekerjasama tanpa canggung," ujar Dahlan.

Disadur dari:  edukasi.kompas.com
Sumber gambar: fathiya.blogdetik.com

Hits: 236