VdBackground 01.jpg

Keterampilan untuk Diam dan Tidak Melakukan Apa Pun

Print
Created on Saturday, 07 January 2017 Last Updated on Wednesday, 25 January 2017 Written by Phi-D

 

Perhatikan 2 (dua) gambar di bawah ini.

         

Dari gambar di atas, mana yang Anda anggap sebagai orang yang akan menuai sukses lebih dulu dan lebih cepat? Mana orang yang menurut Anda adalah orang yang paling produktif? Lalu, orang mana yang menurut Anda akan membangun kehidupan yang lebih bermakna? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas atau menghakimi gaya hidup kedua orang dalam gambar di atas, cobalah pahami dulu artikel di bawah ini.

Banyak orang beranggapan bahwa orang yang produktif adalah mereka yang memiliki pola hidup aktif, cepat atau lincah, dan banyak bergerak. Bahkan mereka seringkali melontarkan motivasi yang bersemangat, “Siapa cepat, dia dapat.” Akan tetapi, “propaganda” ini membuat sebagian besar orang pada akhirnya meremehkan mereka yang pasif, suka tidur, hobi bersantai-santai, dan sebagainya. Dan ini juga akhirnya mendorong orang untuk meminimalkan waktu istirahat mereka, dengan begadang atau lembur hanya agar mereka lebih produktif dengan harapan mereka dapat melejit lebih cepat dibandingkan orang-orang lain. Akan tetapi, benarkah kehidupan yang terlewat produktif benar-benar bermanfaat bagi kehidupan manusia?

Masa hidup sekarang ini memang membuat masyarakat manusia saling terhubung. Hal ini pastinya merupakan keuntungan besar karena banyak orang dipermudah dalam berkomunikasi, berbisnis, belajar, bekerja sama, dan sebagainya. Ini juga yang pada akhirnya memacu seseorang untuk meningkatkan keproduktivitasnya. Namun di balik banyaknya keuntungan tersebut, ternyata ada tantangan yang harus diatasi.

Jaringan yang luas dan terhubung satu sama lain malahan dapat membuat seseorang menjadi ”korban” kebanjiran atau kelebihan informasi. Lalu, mengapa ini berbahaya? Ya, kondisi seperti ini membuat seseorang kehilangan seni untuk merenung, berpikir secara mendalam, membayangkan, berimajinasi, dan introspeksi diri; sebaliknya keadaan ini memaksa mereka untuk ’menyelesaikan sesuatu’ atau pun ’mencari tahu tentang sesuatu’ SESEGERA mungkin. Karena itu, Confusius pernah mengatakan, ”Learning without reflection is a waste, reflection without learning is dangerous (belajar tanpa merefleksikan itu sia-sia, merefleksikan tanpa belajar itu berbahaya).”

Pemikiran di atas memperlihatkan bahwa bekerja keras tidak lebih berharga dari bekerja cerdas. Mencoba untuk mengendurkan jadwal dan meluangkan waktu untuk ”tidak melakukan apa pun” ternyata dapat menjadi hal terbaik yang dapat dilakukan untuk mengatur ulang pikiran dan menjaganya agar dapat terus berimajinasi dan meningkatkan kesehatan mental. Keadaan santai, tidur yang cukup, tidak melakukan apa pun merupakan salah satu cara tubuh manusia untuk meningkatkan kesehatan mental. Ya, Anda dapat melahirkan banyak ide baru di saat Anda memberikan otak cukup waktu untuk “diam”. Ini berarti otak Anda akan pasif, termenung, tidak melakukan aktivitas, atau pun tidak berpikir (baca juga bahwa kreativitas dan ide muncul di saat otak pasif pada artikel: Keterampilan untuk Menghubungkan Titik).

Pekerjaan yang Menyibukkan v.s. Pekerjaan yang Produktif

Kehidupan manusia pada umumnya telah didefinisikan dengan kesibukan. Misalnya, cobalah perhatikan dunia di sekitar Anda, seperti stasiun kereta, restoran, jalanan. Apa yang Anda amati? Dapatkah Anda menghitung jumlah orang-orang yang ”terpaku” pada perangkat elektronik seperti telepon pintar atau tablet?

Seorang eksekutif bisa saja menerima surat-surat elektronik (surel) dalam jumlah yang banyak. Bahkan ada seorang eksekutif yang dapat menerima sekitar 500 surel ke akunnya. Namun ia mengaku bahwa ia tidak membaca semua surel yang masuk karena itu akan membuatnya tidak dapat melakukan pekerjaan utamanya. Ia mengatakan bahwa tantangannya adalah BUKAN untuk MENDAPATKAN informasi, tetapi untuk MEMBUANGNYA sehingga ia tidak kebanjiran informasi, karena yang sebenarnya sangat ia butuhkan bukanlah informasi, tetapi WAKTU untuk BERPIKIR.

Seorang eksekutif lainnya bahkan memperkerjakan seorang asisten untuk memeriksa seluruh surat elektronik yang masuk ke akunnya. Setelah itu ia akan meluangkan beberapa jam setiap minggu untuk mendiskusikan masalah-masalah yang dikirimkan ke akunnya. Ia mengatakan, ”Saya tidak dibayar untuk melakukan pekerjaan seperti itu. Saya sangat sibuk sehingga saya akan kehabisan waktu jika saya harus melakukan seluruh hal yang orang harapkan. Pernyataan-pernyataan ini memperlihatkan bahwa banyak orang dapat melakukan pekerjaan dengan lebih baik jika mereka memiliki sedikit pekerjaan rutin dan banyak melakukan pemikiran secara mendalam, refleksi diri, serta merenung.

Namun yang menjadi permasalahannya adalah orang yang tidak melakukan apa pun sering mendapat konotasi negatif. Beberapa orang mengatakan bahwa tindakan seperti itu membuktikan bahwa orang tersebut tidak bertanggung jawab dan suka membuang-buang waktu. Kebanyakan orang juga akan merasa sangat bersalah jika mereka tidak melakukan apa pun. Di lain sisi, seseorang yang memiliki banyak kegiatan produktif sering dijadikan topik pembicaraan yang positif.

Padahal penelitian memperlihatkan bahwa perilaku yang mengganggu seperti selalu memeriksa surel yang masuk ke akun akan membuat otak menembak dopamin ke aliran darah yang memberikan sinyal rasa senang ke sel-sel otak. Ini akan membuat seseorang jadi menyukai aktivitas yang tadinya dianggap sebagai gangguan sehingga orang tersebut sulit untuk menghentikan aktivitas yang mengganggu ini. Sebagai akibatnya, tanpa disadarinya, dia mulai kehilangan koneksi dengan orang-orang di sekitarnya, bahkan juga kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri. Apakah keadaan ini dapat berbahaya? Ya, seseorang yang tidak membiarkan dirinya ”diganggu”, atau dihentikan dari aktivitasnya yang sibuk secara terus-menerus, dan tidak memberikan ke pikirannya sedikit waktu luang; akan merusak kemampuan berpikir secara mendalam, menghambat perkembangan kepribadian, dan menumpulkan kreativitasnya. Maka jangan pernah meremehkan waktu luang Anda, gunakan itu demi kesehatan mental Anda [Baca artikel: Belilah Waktu Luang untuk Anda].

Seringkali seseorang tersadar bahwa dirinya sangat sibuk serta bekerja terlalu keras (dan tidak cukup cerdas) adalah saat dia melihat dirinya memiliki banyak hal yang harus dikerjakan. Sewaktu seseorang menipu diri dengan berpikir bahwa jika ia melakukan satu lagi pekerjaan, maka ia dapat bersantai kemudian, ia sedang membuat delusi. Ya, sewaktu daftar kegiatan seseorang bertambah atau ia merasa dapat melakukan hal-hal lain dengan sedikit lebih baik, maka ia sebenarnya sedang terjebak dengan cara berpikirnya. Segeralah keluar dari jebakan ini dan BERISTIRAHATLAH! Jika Anda mau menyediakan waktu untuk putus dari masalah, sebenarnya Anda dapat melihat masalah itu dari cara yang berbeda dan menemukan jawaban yang tepat, yang selama ini memang ada di sekitar Anda, tapi Anda tidak menyadarinya karena Anda terlalu sibuk [Baca artikel: Anda Bosan? Itu Bagus! ].

Dalam dunia ini, seseorang akan dihadapkan dengan pilihan untuk sibuk bekerja atau bekerja secara produktif. Pernahkah Anda mengamati cara Anda bekerja? Lalu bagaimanakah tipe Anda bekerja? Apakah Anda bekerja dengan produktif? Atau terlalu sibukkah Anda dalam pekerjaan Anda? Setelah Anda tahu pentingnya untuk memberi waktu luang pada otak Anda, apa yang akan Anda lakukan dan pilih? Apakah Anda akan terus memaksakan diri untuk lebih produktif? Apakah Anda berupaya untuk merencanakan waktu berlibur untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran Anda? Ya, pilihannya ada di tangan Anda masing-masing.

Aza-aza FIGHTING.

"Nature does not hurry, yet everything is accomplished
(Alam tidak tergesa-gesa, namun segalanya berjalan lancar)." - Lao Tzu


Referensi artikel:  The Importance of Doing Nothing (© knowledge.insead.edu)
Sumber gambar:  I Hate Being Busy ( © questingforfire.wordpress.com)  dan  Things Calm People Do ( © Huffington Post)

Hits: 541